Hari Minggu pagi, langit di atas kota Semarang mendung tetapi tidak gerimis. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, suasana tampak sibuk. Ibu Sarinem sedang menggelar taplak meja motif bunga mawar yang sedikit kusam, sementara Bapak Wagimin sibuk merapikan kerah kemejanya yang sudah sedikit kebesaran di depan cermin buram.
Dulu, ngapel bukanlah ajang mesra-mesraan seenaknya. Ketika seorang pemuda "ngapel" ke rumah sang gadis, itu berarti:
From a sociological perspective, ngapel serves as a form of "community surveillance." In many Indonesian neighborhoods, especially in kampungs , the concept of gotong royong (mutual help) extends to moral policing.
Secara etimologis, kata "ngapel" berasal dari bahasa Jawa (Jawa Tengah dan Timur) yang berarti "berkunjung" atau "bertamu," khususnya dalam konteks hubungan asmara. Di masa lalu, ngapel adalah satu-satunya "mode kencan" yang bisa diterima secara sosial.
Namun, sebagai isu sosial, kita juga harus jujur mengakui bahwa kebiasaan "ngapel mulu di rumah" memiliki sisi gelap yang jarang dibicarakan.